Tuesday, June 18, 2013

Koran Pagi

Koran Pagi


Warga Thailand Selatan Lebih Merasa Melayu

Posted: 18 Jun 2013 03:43 AM PDT

Pattani, Thailand - Harapan warga agar konflik sektarian yang sering terjadi di Thailand Selatan dalam beberapa tahun terakhir ini yang telah menyebabkan ratusan warga Buddha dan Muslim tewas, segera berakhir tampaknya memudar.

Pasalnya, pada dialog Pattani yang disponsori Malaysia di Pattani, Thailand Selatan, pemerintah Bangkok masih bersikeras menolak memberikan otonomi khusus untuk Thaialnd Selatan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia itu.

Seperti dilaporkan Yahoo News, sejak 2004, konflik sektarian di Thaialnd Selatan telah menewaskan 5.700 orang.

Dalam dialog tersebut, kelompok separatis yang diwakili Barisan Revolusi Nasional (BRN), mendesak pemerintah Thailand agar mengizinkan mereka untuk membentuk pemerintahan sendiri.

Pasalnya, kata mereka, secara budaya, banyak warga di tiga provinsi Thailand Selatan, Pattani, Yala dan Hat Yai, beragama Islam. Mereka merasa lebih melekat pada budaya Melayu ketimbang Siam.

Namun, pemerintah Bangkok tak memedulikan sejarah tersebut, Akibatnya, warga Muslim di sana marah dan sebagain dari mereka menggunakan cara kekerasan untuk memrotes pemerintah, diantaranya melakukan bom bunuh diri.

Ribuan korban baik MUslim dan Buddha tewas dalam konflik sektarian sejak 2004. BRN berharap pemerintah Bangkok bersedia memberikan mereka pemerintahan otonomi agar kekerasan sektarian bisa diakhiri.

Dalam dialog di Pattani itu, BRN mengingatkan pemerintah Thailand bahwa berdasarkan sejarah, kawasan Thailand Selatan sebelum dicaplok Kerajaan Siam merupakan bagian dari Kesultanan Islam Melayu.

Novelis Malaysia Menangi Anugerah Sastra Inggris

Posted: 18 Jun 2013 03:39 AM PDT

Jakarta - Penulis kelahiran Malaysia Tan Twan Eng meraih Walter Scott Prize untuk fiksi sejarah sebesar 25 ribu poundsterling untuk novel keduanya berjudul "The Garden of Evening Mists".

Novelnya mengungguli "bring up the Bodies" karya Hilary Mantel yang telah beberapa kali memenangi hadiah sastra bergengsi di Inggris, dan novel karya para penulis ternama Inggris lainnya seperti Rose Tremain, Pat Barker dan Anthony Quinn, serta dari novelis Australia Thomas Keneally.

Menurut para juri The Scott Prize, buku karya Eng dipilih karena ketajaman cerita tentang mengingat dan melupakan.

"Berlatar di hutan Malaya, pemenang tahun ini membawa kita ke masalah usai Perang Dunia II," kata juri seperti diberitakan BBC.

Eng terbang dari kediamannya di Afrika Selatan untuk menerima penghargaan yang diberikan Duke of Buccleuch pada satu acara khusus di Borders Book Festival, Melrose, Scottish Borders.

The Walter Scott Prize adalah penghargaan sastra Inggris yang diberikan sejak 2010. Tahun lalu, anugerah ini mengikutsertakan para penulis yang berasal dari negara-negara Persemakmuran.

Pasar Kangen Jogja Hadirkan Suasana Tempo Dulu

Posted: 18 Jun 2013 03:32 AM PDT

Yogyakarta - Pasar Kangen Jogja digelar untuk kelima kalinya di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 19-24 Juni ini dengan menghadirkan kembali suasana tempo dulu khas Kota Gudeg itu.

"Akan ada 45 anjungan kuliner tradisional, 41 stan kerajinan dan 20 kelompok kesenian tradisional yang akan tampil selama berlangsung Pasar Kangen Jogja 2013," kata Ketua Panitia Sri Eka Kusumaningayu di Yogyakarta, Senin.

Pihaknya sudah melakukan seleksi ketat untuk menentukan jenis kuliner dan kerajinan yang akan ditampilkan pada kegiatan tersebut, dengan harapan upaya mengembalikan ruh Pasar Kangen Jogja bisa terwujud.

"Kami ingin memberikan ruang kepada masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi dalam pasar kangen kali ini," ujar Sri Eka Kusumaningayu.

Penyelenggara juga memilih pengisi anjungan yang benar-benar akan menghadirkan tradisi khas Yogyakarta, bahkan penjaga anjungan juga diwajibkan mengenakan pakaian tradisional untuk membedakan dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Sejumlah kuliner tradisional yang akan ditampilkan adalah menu yang sudah jarang dijumpai, di antaranya hawug-hawug, tiwul, lopis ketan, wedang uwuh, cenil, dan arak keling.

Sedangkan seni kerajinannya di antaranya wayang kardus, topeng kayu, boneka, cincin akik, dan kaos motif lawasan.

Sementara itu, kesenian tradisional yang dipersiapkan di antaranya jathilan, campursari, wayang orang, reog, karawitan, dan wayang kulit.

"Juga akan ditampilkan barang-barang kuno. Pengunjung pun bisa melakukan tawar menawar harga sebelum membelinya," kata Sri Eka Kusumaningayu.

Barang-barang kuno yang akan ditampilkan di antaranya kotak perhiasan, arca kecil, cermin, pigura, kaset kuno bahkan gramaphone lengkap dengan piringan hitamnya.

"Selain akan mengobati rasa kangen warga terhadap suasana tempo dulu Yogyakarta, pasar ini diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung," katanya.

Seluruh kegiatan Pasar Kangen yang dipusatkan di Taman Budaya Yogyakarta tersebut terbuka untuk umum dan masyarakat serta wisatawan dapat menikmatinya tanpa dipungut biaya tiket masuk.

Drama Musikal Timun Mas Modern Segera Digelar

Posted: 18 Jun 2013 03:14 AM PDT

Jakarta - Drama musikal yang diadaptasi dari sebuah cerita rakyat Timun Mas akan dikemas secara kekinian dengan sentuhan drama, opera, orkestra, dan multimedia dalam pagelaran yang berlangsung di Istora Senayan pada 29-30 Juni 2013.

"Tidak terlalu kedaerahan atau kuno. Kami maunya ini jadi sesuatu yang beda," tukas sutradara Rama Soeprapto di Jakarta, Senin.

Dia menambahkan, musikal yang idenya digarap selama lima tahun itu tetap menonjolkan aspek Indonesia, salah satunya lewat kostum Raja dan kebaya Ratu yang didesain perancang kenamaan Anne Avantie.

Musikal Timun Mas dibintangi artis papan atas, seperti Angel Pieters (Timun Mas), Nola Be3 (Ibu Timun Mas), Chandra Satria (Ayah Timun Mas), Raline Shah (sepupu Timun Mas), Ria Irawan (bude Timun Mas), Indra Birowo (Butho Ijo/ Siluman jahat), Ibu-ibu Sahita Group (Empat Nyonya), dan Maera (Penyihir).

Pementasan yang berlangsung pukul 14.30 dan 18.30 WIB pada 29-30 Juni mendatang dapat disaksikan dengan membeli tiket yang dijual mulai dari Rp150.000- Rp1.500.000.

Tunggu apa lagi, saksikan kasih orangtua membesarkan putri angkatnya yang berjuang mempertahankan hidup dalam balutan drama karakyatan yang modern.

Dongkrak Budaya Lokal, Para Bankir Diajari Kesenian Betawi

Posted: 18 Jun 2013 03:08 AM PDT

Jakarta - Sejumlah kegiatan digelar untuk menyemarakkan ulang tahun Kota Jakarta ke 486. Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menggelar pelatihan seni budaya Betawi kepada para bankir di Gedung Arsip Nasional.

Ketua umum LKB, Tatang Hidayat, mengatakan kegiatan yang digelar merupakan kerjasama LKB dengan salah satu bank asing di Jakarta. Beragam kegiatan ditampilkan seperti kesenian pencak silat, melukis batik, palang pintu, gambang kromong, tari betawi, serta ondel-ondel dan kegiatan lainnya.

"Bentuk kerjasama ini lebih merupakan satu kepedulian yang sangat serius dari pihak bank asing, saat apresiasi masyarakat terhadap pelestarian kearifan lokal ini menurun. Ketika sanggar-sanggar kesulitan untuk merekrut pelaku kesenian tradisional, mudah-mudahan kegiatan ini akan muncul pelaku dan pemerhati seni budaya Betawi yang baru," kata Tatang, Jakarta, Minggu (16/6).

Tatang yang merupakan salah satu tokoh muda Betawi itu menambahkan, kegiatan yang digelarnya diharapkan dapat berdampak positif sebagai upaya pemberdayaan para pelaku seni budaya baik jasa kesenian maupun produk budaya lainnya.

"Harapannya semoga kegiatan ini bisa menggugah para pelaku usaha lain baik swasta maupun pemerintah, turut bersama satu barisan dalam melestarikan, mengamankan dan memberdayakan seni budaya betawi agar kesenian ini bisa tetap ada di kampungnya sendiri," ujar Tatang.

Festival Indonesia di Kota Robin Hood

Posted: 18 Jun 2013 03:02 AM PDT

Nottingham, Inggris - Lebih dari 2.000 pengunjung, termasuk Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia, TM Hamzah Thayeb dan Ny Lastry Thayeb, mengadiri Festival Rakyat Indonesia (Indonesian Festival/Indofest) di kota Robin Hood, Nottingham, Inggris.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di kota Nottingham, yang sekira dua jam perjalanan darat dari London, mengadakan Indofest setiap tahun, dan kali ini merupakan perayaan ke-10 bertema menyatu dalam keberagaman (Unity in Diversity), ujar Ketua PPI Inggris Raya, Haikal Bekti Anggoro, kepada ANTARA News, Minggu.

Indofest berlangsung di taman salah satu universitas terbaik di Inggris, Nightingale Park di Nottingham University. Acara tersebut kian menarik dengan diselenggarakannya berbagai permainan anak-anak, seperti lari karung dan tarik tambang.

Indofest banyak dihadiri warga Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Inggris, seperti Newcastle, Birmingham, Colchester dan London. Selain itu, warga Inggris juga ikut memeriahkannya.

Berbagai kuliner Indonesia tersaji di Indofest, antara lain sate ayam, bakso, mpek mpek, somai, nasi Padang, serta bahan makanan seperti ikan asin, indomie, kecap, kerupuk dan juga jengkol dan melinjo untuk sayur asem yang dijajakan lebih dari 30 gerai.

"Puas mencicipi segala makanan yang dijual," ujar Ary Beale, warga Colchester, Essex, yang datang bersama dua putrinya, usai menyantap martabak manis berisi kacang bercampur keju.

Banyak pula anak-anak kecil mengikuti pelatihan singkat membuat batik yang diadakan di Nightingale Park, dan puluhan dari mereka pulang membawa karya batik pertamanya.

Panitia Indofest bekerja sama dengan pelajar-pelajar Indonesia dari kota lainnya untuk menggelar kesenian khas Nusantara, seperti tari saman dan ngibing, serta mengajak para peserta menari poco-poco.

Indofest tahun ini juga menjadi ajang pencarian bakat khas Indonesia dengan mengajak peserta menunjukkan kemampuannya atas kesenian khas Indonesia. Juara direbut penari dari Newcastle yang menyajikan tarian Ratok Dueh yang berhasil memikat hati para juri.

Selain itu, Indofest dimeriahkan BhinneCup atau ompetisi antar pelajar anggota PPI di setiap kota di Inggris Raya yang mempertandingkan futsal, basket, bulu tangkis, dan Adventure Game. PPI Cabang Birmingham berhasil menggondol juara umum kompetisi tersebut.

Geraldo Edison Tegouch, Ketua Panitia Indofest 2013, menyatakan sangat bangga akan kerja keras para pelajar di Nottingham yang mewujudkan kegiatan tersebut.

"Kerja keras kita sejak November tahun lalu terbayar dengan sukses atas kerja keras kita semua," ujar Geraldo.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Raya dan Republik Irlandia, TM Hamzah Thayeb, pun turut menyempatkan hadir di sore hari, walaupun sejak pagi menghadiri kegiatan parade perayaan 60 tahun Ratu Elizabeth II atas undangan keluarga kerajaan.

Menutup acara Indofest kali ini, Hamzah Tyaheb mengemukakan, "Indofest adalah satu-satunya acara di mana saya merasa bahwa saya berada di tengah little Indonesia di Inggris Raya."

Adi Merdangga dan Siwa Nataraja Awali Pesta Kesenian Bali

Posted: 18 Jun 2013 02:44 AM PDT

Denpasar, Bali - Derap pasukan kendang disertai lenggang gagak penabuh dengan debur suara gamelan yang membuncah gemuruh mengawali atraksi budaya Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXV tahun 2013. Sekitar 125 pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN 5) Denpasar menunjukkan kepiawaiannya memainkan drum band tradisional "Adi Merdangga" dan tari "Siwa Nataraja".

Puluhan penari itu muncul hanya beberapa saat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika memukul gong beri di panggung kehormatan menandai mulainya pawai PKB di depan Monumen Bajra Sandhi Denpasar, Sabtu (15/6/2013) sore.

Kepala Negara yang mengenakan busana adat khas Bali dengan kelengkapan destar (udeng) di kepala disaksikan ribuan masyarakat yang memadati tampak mengumbar senyum ke arah penonton. Hadir pula dalam kesempatan itu Ibu Negara, Ani Yudhoyono dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia bersatu, antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu.

Adi Merdangga dan Siwa Nataraja yang selalu tampil mengawali atraksi budaya PKB lahir dari gagasan budayawan dan mantan gubernur Bali, almarhum Prof Dr Ida Bagus Mantra yang menginginkan ada musik tradional Bali yang bisa tampil untuk mengiringi kegiatan bersifat akbar sejak 1984.

Anak-anak muda yang mendalami seni budaya Bali bermain musik dengan memadukan keterampilan dan kemampuan gerak yang dinamis serta atraktif. Sementara tari Siwa Nataraja yang dibawakan seorang pelajar putri menggambarkan manivestasi Dewa Siwa sebagai penari tertinggi yang menciptakan dunia lewat tari.

Adi Merdangga dan tari Siwa Nataraja selama 35 tahun pelaksanaan PKB sebelumnya selalu dipersembahkan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan PKB kali ini tampaknya ada regenerasi.

Pada PKB yang mengusung tema "Taksu: Membangkitkan Daya Kreativitas dan Jati Diri" SMKN 5 Denpasar mendapat kehormatan untuk tampil pertama pada pawai budaya pada pesta tahunan seniman Pulau Dewata.

Adi Merdangga yang melibatkan ratusan seniman muda yang enerjik itu memainkan kendang berbagai ukuran dan instrumen lain seperti cengceng dan reong itu mengiringi penampilan tari kolosal Siwa Nataraja.

Atraksi itu mampu menarik perhatian ribuan penton, termasuk wisatawan mancanegara yang sedang berliburan di Pulau Dewata, yang memadati sepanjang jalan di kawasan Niti Mandala Renon Denpasar, meskipun sempat diguyur hujan deras.

Ketika Putri Pariwisata Membatik di Borobudur

Posted: 18 Jun 2013 02:32 AM PDT

Magelang, Jateng - Ada yang berbeda diantara puluhan stand-stand kerajinan yang berderet di Taman Lumbini kompleks Candi Borobudur pada event Borobudur International Festival (BIF) 2013, Sabtu (15/6/2013) siang. Para pengunjung BIF tampak berkerumun di salah satu stand batik di salah satu sudut. Rupanya di stand tersebut ada Putri Indonesia Pariwisata 2013, Cok Istri Krisnanda Widani (21), yang tengah asyik belajar membatik menggunakan canting (alat untuk membatik).

Meski tampak serius, namun gadis asal Bali itu tetap tersenyum ramah setiap kali pengunjung menyapa. Dengan jarinya yang lentik, Cok Is tidak terlihat canggung ketika seorang perajin Nuryanto membimbingnya membatik dengan menggunakan canting. Ia membuat batik motif stupa bertuliskan Borobudur International.

Selain membatik, Cok juga berkesempatan melihat penampilan kesenian tradisional khas Magelang yaitu tarian Soreng di panggung utama di tengah Taman Lumbini. Tak ayal para pengunjung yang mengenalinya langsung berebut untuk berfoto bersamanya. Cok pun dengan ramah melayani sau-persatu permintaan warga itu.

Dalam agenda empat tahunan BIF 2013 yang digelar selama 4 hari dari 13-17 Juni, Cok cukup sibuk mempromosikan kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jateng ini.

Pada malam pembukaan lalu, Cok Is mendampingi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar dan Gubernur Jateng Bibit Waluyo memukul gong sebagai tanda pembukaan BIF 2013. '"Tadi saya sudah sempat berkeliling melihat stand-stand yang ada di ajang BIF ini , seperti stand kerajinan, batik, kuliner, jamu dan lain sebagainya. Ini menjadi ajang promosi wisata yang bagus bagi di Jawa Tengah," kata Cok Is, putri sulung dari dua bersaudara ini.

Menurutnya, kegiatan BIF sangat bagus untuk saling tukar kebudayaan dan informasi wisata masing-masing peserta. Di samping itu juga bisa menambah ilmu pengetahuan tentang pariwisata dan kesenian bagi masyarakat.

Betapa tidak, Cok Is menambahkan, di BIF kali ini banyak ditampilkan berbagai kesenian daerah di Indonesia bahkan luar negeri seperti China, Brunei Darussalam dan negara-negara lain. "Ini sangat luar biasa, di sini kita bisa saling mengenalkan kebudayaan masing-masing," tutur gadis yang pernah menjadi pemeran wanita terbaik Pekan Seni Remaja 2006 ini.

Cok sendiri mengaku pertama kali naik Candi Borobudur saat ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Saat itu, dirinya begitu takjub dengan kemegahan candi Buddha terbesar di dunia itu. Pada pada masa itu manusia belum mengenal teknologi canggih. "Karena itu saya berharap, semua orang ikut merasa memiliki Candi Borobudur sebagai warisan budaya dengan cara ikut serta melestarikannya," ucapnya.

Jokowi Sediakan Lahan Workshop untuk Batik Betawi

Posted: 18 Jun 2013 02:23 AM PDT

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjanjikan akan memberikan lahan untuk tempat pelatihan (workshop) bagi para pengrajin Batik Betawi yang tergabung dalam Keluarga Batik Betawi (KBB).

"Sudah. Nanti disediakan di Marunda, Jakarta Utara," kata Jokowi di Balaikota DKI Jakarta, Rabu.

Dia bahkan mengatakan bahwa tidak hanya menyediakan lahan untuk pelatihan saja. Pemprov DKI juga akan turut membantu proses promosi yakni dengan menyediakan tempat yang dikelola oleh Dinas Usaha Kecil Menengah.

"Nanti kan bisa titip di UKM DKI," kata Jokowi.

Sementara itu, Pengurus Keluarga Batik Betawi, Shandra Candradini mengatakan bahwa sepuluh pengrajin batik betawi hingga kini belum memiliki tempat naungan maupun tempat promosi hasil karya mereka.

"Mereka sudah tiga tahun berusaha di rumah masing-masing," katanya di Balaikota DKI Jakarta.

Shandra menyebutkan bahwa pengelolaan pengrajin batik ini juga bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara yang ingin melihat proses pembuatan batik Betawi yang banyak menggunakan ikon-ikon Jakarta tersebut.

"Kalau wisatawan mancanegara kan ingin lihat proses. Makanya kami ingin buka bengkel sehingga bisa jadi salah satu tempat wisata juga," katanya.

Selain tempat workshop tersebut, Chandra menyebutkan bahwa para pengrajin membutuhkan koperasi yang menyediakan bahan baku pembuatan batik. "Karena selama ini kami dapatnya dari Pekalongan," katanya.

Batik Betawi tersebut menggunakan ikon-ikon khas Jakarta seperti Tugu Monas, Ondel-ondel, Pucuk Rebung, Rumah Betawi dan Pitung.

Pedesaan Berbudaya Magis Disukai Turis

Posted: 18 Jun 2013 02:19 AM PDT

Denpasar, Bali - Pengamat pariwisata Dewa Rai Budiasa melihat suasana perdesaan di Bali memiliki kekuatan magis sehingga mampu menarik wisatawan. "Komponen pariwisata harus kreatif menciptakan jalur pariwisata menarik agar lebih banyak turis asing datang sekaligus tinggal lebih lama menikmati keindahan panorama alam Pulau Dewata," katanya di Denpasar Jumat (14/6/2013).

Oleh karena itu, Dewa Rai meminta pelaku pariwisata pandai-pandai membaca keinginan konsumen terutama turis agar senang dan mau berada lebih lama tinggal di Bali, dengan membuka jalur pariwisata yang lebih menarik dan menyuguhkan sesuatu yang unik untuk orang asing.

Masyarakat dalam dan luar negeri yang berlibur tentu menginginkan hal baru yang bisa disaksikan dan dirasakan di daerah tempat perpelancongan ini. Oleh sebab itu, perlu diciptakan lintasan kunjungan wisata yang beraneka ragam.

Menurut Dewa Rai, pihaknya memiliki pemikiran dan merealisasikan sendiri terhadap tamunya untuk datang menginap di perkampungan sambil menyaksikan aktivitas masyarakat sekitarnya secara apa adanya.

"Saya punya pondok di kampung di Kecamatan Payangan (Kabupaten Gianyar) yang bisa menampung sejumlah turis asing. Mereka senang bermalam beberapa hari untuk menikmati kondisi kampung yang tidak pernah dirasakan di negaranya," katanya.

Turis yang menginap di rumahnya bisa menonton tari Barong atau tarian kemudian menyaksikan masyarakat yang sedang melakukan aktivitas seperti membuat banten, sarana upacara adat dan agama dan suasana lingkungan yang sejuk.

Wisatawan asing yang berlibur secara perorangan ke Bali tentu ingin bermalam sambil menikmati suasana hotel berbintang, kemudian pindah ke pondok wisata termasuk menginap di daerah perkampungan seperti di Payangan.

Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat jumlah turis yang datang langsung dari negaranya ke Bali selama Januari-April 2013 sebanyak 962.940 orang atau naik 5,17 persen jika dibandingkan perioda sama 2012 hanya 915.594 orang.

Sultan Tolak Sarkem Jadi Kawasan Wisata Seks

Posted: 18 Jun 2013 02:04 AM PDT

Yogyakarta - Gubernur DIY Sri Sultan HB X secara tegas menolak lontaran ide dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY yang menggagas dijadikannya kawasan Pasar Kembang (Sarkem) menjadi tempat wisata seks di DIY seperti halnya di beberapa negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura.

"Kalau saya gak setuju itu. Kita gak bicara dan pakai cara-cara seperti itu lah," ujar Sultan usai menjadi Keynote Speaker seminar RUU Kepemudaan di UC UGM, Kamis (6/12/2007).

Menurut Sultan untuk mengembangkan pariwisata di DIY tidak perlu menggunakan cara-cara menghalalkan segala cara seperti yang dilontarkan PHRI tadi. Sultan justru menyindir meskipun tidak ada rencana dari PHRI ini keberadaan pelacur maupun germo tetap masih ada.

"Gak usah omong PHRI aja germo juga ada to," tambah Sultan.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta, Hadi Mochtar juga secara tegas menolak wacana dijadikannya Sarkem menjadi wisata seks di DIY untuk menarik perhatian wistawan sehingga bisa mendatangkan pendapatan bagi DIY.

"Kita sepakat dikembangkannya Sarkem menjadi kawasan wisata andalan di pusat kota. Tapi tidak sebagai wisata seks. Kita kembangkan dari segi lainnya seprti kesenian tradional dan pengembangan hotel serta reastauran setempat," kata Hadi.

Sebelumnya munculnya wacana dijadikannya Sarkem menjadi kawasan wisata seks di DIY berasal dari Istijab, Ketua PHRI DIY. Istijab mengatakan Sarkem cukup prospektif dikembangkan menjadi kawasan wisata andalan di DIY termasuk kemungkinan sebagai kawasan wisata seks.

"Kita gak usah munafik lah. Kalau ada tamu di hotel kita biasanya khan mereka mau diantar ke Sarkem. Di negara lain Malaysia dan Singapura misalnya khan juga ada sentra wisata seks. Selain ada pendapatan untuk daerah khan penyebaran HIV/AIDS bisa dikurangi karena lebih terpusat di satu tempat saja," kata Istijab.(Satria Nugraha/Trijaya/sjn)

Menanti Geliat Stasiun Tanjungpriok

Posted: 18 Jun 2013 01:58 AM PDT

Kompas.com - Stasiun Tanjungpriok segera beroperasi kembali. Stasiun kereta ini segera berfungsi melayani rute dalam kota menggunakan kereta api listrik (KRL). Rute Tanjungpriok-Jakarta Kota dan Tanjungpriok-Bekasi bakal segera terwujud pertengahan tahun nanti. Jaringan rel di stasiun ini sudah empat jalur (double-double track). Masa kejayaan stasiun ini akan segera dimulai. Masa-masa kumuh segera digantikan dengan pemandangan stasiun yang megah, yang dari segi arsitektur sangat menarik minat pelancong.

Bahkan, nantinya, menurut Kepala Humas PT KA Daop I Akhmad Sujadi, stasiun ini juga melayani rute antarkota.

Selama sekitar 10 tahun, akibat perubahan status menjadi PT KA (Persero) pada Juni 1999, perubahan besar terjadi pada stasiun ini. Masalah pendanaan memaksa PT KA menghentikan operasi stasiun ini. Tak ada lagi penumpang ke berbagai kota di Jawa yang bisa berangkat dari stasiun itu. Yang tersisa hanya kereta pengangkut barang.

Penghentian operai itu dilakukan setelah kondisi bangunan tak lagi terawat. Bukannya lantas dihidupkan, jalur dan stasiun ini malah dibiarkan mati. Alhasil, tempat seluas ini, sepanjang rel kereta yang terhubung ke jalur mati ini jadi sasaran empuk tuna wisma yang terus mengalir ke Jakarta. Penghuni di sepanjang rel kereta seperti mendirikan sebuah kota sendiri, lengkap dengan tempat hiburan. Apalagi kalau bukan tempat pelacuran, Pela Pela. Maka tak heran jika stasiun ini jadi tempat yang rawan.

Gubuk-gubuk liar menghiasi jalur rel, bahkan emplasemen stasiun pun jadi sasaran untuk mendirikan gubuk. Dari pengalaman Warta Kota hingga tahun lalu, seperti pada gubuk liar di mana pun di pinggir rel kereta, stasiun ini sungguh kotor. Kotoran manusia menjadi pemandangan di sepanjang jalur rel. Belum lagi suara bising dari pengeras suara yang melantunkan lagu yang mengajak siapapun untuk datang ke pusat suara. Sebuah tempat hiburam kelas bawah, lengkap dengan minuman keras dan perempuan-perempuan yang menjajakan diri.

Kini, meski stasiun masih penuh dengan tuna wisma, dan terlihat masih cukup kumuh namun perbedaan besar terlihat dari bangunan yang sudah menampakkan bangunan asli. Cat sudah menyentuh dinding bangunan ini. Pokoknya, gedung ini siap "bertempur" kembali. Pasti tak mudah berurusan dengan tuna wisma, pun tak murah. Paling tidak, ada yang bisa dinantikan warga Jakarta, menikmati bangunan bersejarah ini sambil mencoba naik/turun di stasiun termegah di abad 20 ini.

Monumental
Stasiun Tanjungpriok dibangun dalam rangka mendampingi Pelabuhan Tanjungpriok yang dibangun pada1877-1883, untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa tak lagi mampu menampung kapal uap dari seluruh dunia, sejak Terusan Suez dibuka pada 1868. Stasiun ini menghubungkan Pelabuhan Tanjungpriok dengan Kota Batavia yang berada di selatan dan berbagai kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang memiliki jaringan kereta api. Alasan pembangunan ini karena pada masa lalu wilayah Tanjung Priuk sebagian besar terdiri hutan belantara dan rawa-rawa yang berbahaya, sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman pada saat itu, yaitu kereta api.

Pembangunan Stasiun Tanjungpriok lama dimulai pada tahun 1885. Lokasi pembangunannya di sebelah utara dari bangunan Stasiun Tanjungpriok yang sekarang, agar dekat dengan pelabuhan pada waktu itu. Latar belakang pembangunan stasiun baru adalah sebagai konsekuensi aktivitas di pelabuhan yang makin meningkat.

Pada 1914, Gubernur Jendral AFW Idenburg yang memerintah Batavia pada 1909-1916, memulai pembangunan stasiun baru. Gedung bergaya Art Deco dan Kubisme ini dibangun sekitar satu kilometer sebelah selatan dari stasiun lama. Arsitek CW Koch, insinyur utama dari Staats-Spoorwegen (SS), Perusahaan Keretaapi Negara Hindia Belanda yang berdiri sejak 6 April 1875, membutuhkan 1.700 tenaga kerja, termasuk 130 tenaga kerja bangsa Eropa.

Dalam buku tentang Stasiun Tanjungpriok yang sedang disiapkan Kepala Humas Daop I Akhmad Sujadi, disebutkan, stasiun ini merupakan stasiun monumental dengan delapan jalur ganda, enam jalur di dalam peron dan dua jalur di luar peron. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang yang memiliki atap penutup dari beton dan seng tebal. Kaca patri dan ornamen profil keramik menghias dinding stasiun.

Peresmian penggunaan Stasiun Tanjungpriok dilakukan tepat pada ulang tahun ke-50 Staats-Spoorwegen (SS) tanggal 6 April 1925. Saat itu bersamaan dengan pembukaan jalur elektrifikasi Tanjungpriok - Meester Cornelis yang dilayani kereta yang ditarik lokomotif listrik seri SS-3200 (buatan Werkspoor, Belanda-yang terkenal dengan Lokomotif Si Bon Bon) serta jaringan listrik aliran atas (LAA) yang terbentang mulai dari Tanjungpriok-Bogor, dan jalur lingkar sekitar Jakarta.

Stasiun ini juga dijadikan sebagai tempat transit warga barat yang datang ke Batavia dan sekitarnya. Untuk akomodasi, stasiun bertingkat dua itu punya di tempat yang berfungsi layaknya hotel.


Seiring kemerdekaan 17 Agustus 1945, perusahaan yang semula dikuasai Belanda diambilalih oleh bangsa Indonesia, termasuk perusahaan kereta api. Status perusahaan pun terus berganti mulai dari DKA (Djawatan Kereta Api), DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia), PNKA (Perusahaan Negera Kereta Api), PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api) dan akhirnya menjadi PT Kereta Api (Persero) sejak 1 Juni 1999.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Jalan Jaksa Jadi Tempat Transaksi Prostitusi

Posted: 18 Jun 2013 01:50 AM PDT

Jakarta-RoL-- Sekitar 20 wanita penghibur setiap malam mangkal di sejumlah tempat hiburan dan hotel di Kawasan Wisata Malam Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, kata Ketua Ikatan Usaha Kepariwisataan Jalan Jaksa dan Sekitarnya (IUKS) Boy Lawalata di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, para wanita penghibur itu pada umumnya mengenakan pakaian seronok, duduk-duduk di kafe mendengarkan musik sambil merokok, mencari turis untuk dijadikan teman kencan. Apalagi restoran atau kafe di Jalan Jaksa terkenal murah.

Bahkan, katanya, selain wanita penghibur yang datang dari berbagai daerah, terdapat juga laki-laki gay yang mangkal mencari turis yang senang terhadap sesama jenis. "Tak terkecuali, wanita lesbian pun ada di Jalan Jaksa," ujarnya.

Meski demikian, kata sesepuh Jalan Jaksa itu, tidak diketahui pasti apakah wanita penghibur, gay dan lesbian yang telah mendapat mangsa itu menggunakan tempat penginapan di Jalan Jaksa (lima hotel dan delapan hostel/wisma) atau tidak.

Ia mengatakan, pada prinsipnya IUKS telah menyebarkan surat edaran yang melarang tempat hiburan dan penginapan di Jalan Jaksa digunakan kegiatan prostitusi.

Helmy Zain, pemilik wisma Ariny, juga membenarkan bahwa banyaknya turis di Jalan Jaksa dimanfaatkan wanita penghibur dan gay mencari uang dan kesenangan.

"Ibarat pepatah, di mana ada gula di situ ada semut, tak terkecuali wanita penghibur juga melihat peluang mendapatkan uang dari para turis," katanya.

Sementara Kepala Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Aris Husaini, menegaskan pihaknya selalu melakukan razia terhadap wanita penghibur agar Jalan Jaksa bebas dari prostitusi.

"Kalaupun masih ada, itu bagian kecil yang segera ditertibkan kembali," katanya.

Sembilan Bangunan Tempat Prostitusi Dibongkar

Posted: 18 Jun 2013 01:46 AM PDT

JAKARTA -– Sekitar sembilan bangunan tempat prostitusi yang berlokasi di wilayah Boker di Jl. Raya Bogor Rt 02/01 Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur dibongkar ratusan petugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP) bersama aparat gabungan, Selasa (9/6).

"Pembongkaran ini sebagai penegakkan Perda DKI Jakarta nomor 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum," kata Camat Ciracas, Syarifudin kepada Republika.

Menurut Syarifudin, pihaknya telah memberi peringatan beberapa kali, namun warga wilayah Boker yang menyewakan kamarnya untuk kegiatan prostitusi ini tidak mengindahkan peringatan tersebut. "Kita lakukan ini agar warga tidak lagi menyewakan tempat ini untuk prostitusi terselubung," ujarnya.

Peringatan dan imbauan pemerintah daerah, tutur Syarifudin, tidak pernah diindahkan warga. "Bahkan, para pemilik bangunan yang disewakan itu kucing-kucingan dengan aparat pemerintah," ungkapnya.

Di salah satu rumah yang permanen terdapat beberapa kamar yang siap untuk disewa tiap malamnya. "Jika, pemilik rumah ini menyewakan untuk dikontrakan rumahnya sebulan dapat Rp 1 juta, tapi kalau disewakan untuk kegiatan prostitusi, mereka bisa dapat Rp. 5 juta," ungkap Syarifudin.

Pembongkaran ini, ujar Syarifudin, demi ketertiban dan kenyamanan warga sekitar Boker tersebut. Selain itu, anak dan cucu warga juga terselamatkan dari lingkungan yang rusak. "Kan, kasihan kalau moral anak-cucu di sini menjadi rusak," jelasnya.

Pantauan Republika, ratusan Satpol PP menghacrukan sembilan bangunan yang digunakan untuk kegiatan prostitusi sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Meski demikian, tidak ada perlawanan dari para pemilik bangunan tersebut.

Dengan pembongkaran warung dan kamar-kamar tersebut, warga berharap praktek pelacuran di lokasi itu terus berkurang. "Kami sih maunya benar-benar hilang agar tidak berpengaruh buruk bagi anak-anak kami," kata salah seorang warga bernama Farid.

Ketua RT 02, Tekik, menyetakan, sebelumnya pihaknya sudah mengingatkan warganya untuk tidak menggunakan rumahnya untuk digunakan tempat prostitusi. "Jadi para pemilik pun saat dibongkar sudah pasrah," kata Tekik.

Lokasi pelacuran liar Boker sudah dikenal sejak 1968 yang bermula dari sebuah warung singgah milik H. Boker yang digunakan para pedagang. Beberapa waktu kemudian, warung lain bermunculan dengan diikuti dengan munculnya pelayan prostitusi.

Pada tahun 2004 lalu, Wali Kota Jaktim DR Koesnan A. Halim menutup tempat prostitusi seluas 4,5 hektar ini untuk dijadikan sport center yang kini tengah dibangun. - c81/ahi

Di Bogor, Keperawanan Dihargai Rp 40 Juta

Posted: 18 Jun 2013 01:40 AM PDT

Bogor (Suara Karya): Sebuah bisnis seks di kalangan pelajar berhasil dibongkar Polresta Bogor, pekan lalu. Pelakunya pasangan kumpul kebo, Buyung (25) dan Fani (20). Keduanya mengakui bahwa keperawanan bisa dijual hingga Rp 40 juta. Gadis yang keperawanannya dihargai sebesar itu adalah An (14).

Untungnya gadis itu menolak. Maka transaksi melalui pasangan Buyung-Fani pun gagal dilakukan," kata Kepala Urusan Bina Operasi Polresta Bogor Iptu Pahyuni saat mendampingi atasannya, Kasat Reskrim Polresta Bogor AKP Irwansyah, seperti dilaporkan kompas.com, Senin (7/4).

Menurut Yuni, keperawanan An dihargai tinggi karena remaja putri tersebut memiliki paras cantik, tubuh seksi dan kulit putih mulus. Begitu melihat penampilan An, Buyung langsung yakin bisa menjualnya dengan harga tinggi. Ia tentu saja punya pelanggan para lelaki hidung belang berkantong tebal.

Di luar dugaan tawaran itu ditolak mentah-mentah. "Ngapain dapat uang Rp 40 juta. Uang itu akan cepat habis tapi saya tidak perawan lagi," kata Yuni mengutip penolakan An.

Tak jelas mengapa An menolak uang sebesar itu. Tapi menurut AKP Irwansyah, itulah yang membedakan bisnis esek-esek ala Buyung-Fani dengan trafficking pada umumnya. Pada trafficking atau penjualan manusia, korban dijanjikan pekerjaan di suatu tempat seperti menjadi karyawan restoran tapi ternyata harus melayani pria hidung belang. "Ada unsur penipuannya. Tapi kasus ini tidak ada penipuannya, korban tahu kalau dia akan dapat uang dengan melayani pria hidung belang," ungkap Irwansyah.

Pasangan Buyung-Fani sendiri bertindak sebagai germo. Para pria hidung belang langganan mereka umumnya orang Jakarta. Pasangan ini berhasil membuat salah seorang remaja berinisial Ca (14) menjadi ketagihan dengan petualangan seks komersialnya. Ca ternyata masih ada hubungan kerabat dengan Fani.

Buyung lalu menyuruh Ca menawari kawan-kawannya untuk melakukan petualangan serupa. Ca memperkenalkan An pada Buyung. Semula Ca yakin kawannya itu akan menyetujui tawaran petualangan seperti dia. Apalagi keperawanan An dihargai jauh lebih tinggi daripada dirinya. Ternyata perkiraannya meleset karena An menolak.

Pasangan Buyung-Fani ditangkap di kamar kos mereka di kawasan Teflan, Warungjambu, Bogor Utara. Mereka sangat terkejut mengetahui kedatangan polisi ke rumahnya. Bahkan Buyung sempat pingsan ketika tiba di Mapolresta Bogor untuk dimintai keterangan.

AKP Irwansyah mengatakan bahwa Buyung dan Fani akan dikenai UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Selain itu mereka juga akan dikenai pasal 297 KUHP. "Pasal 83 UU nomor 23 disebutkan soal ancaman hukuman 5-15 tahun penjara dan dengan denda Rp 60 juta-Rp 300 juta. Sedang pasal 297 ancaman hukumannya enam tahun penjara," kata Irwansyah.
Setelah menangkap Buyung-Fani, lanjut Irwansyah, pihaknya berencana mengembangkan kasus tersebut dengan mengejar anggota sendikat penjualan ABG di Jakarta dan sekitarnya.

Modus esek-esek di kalangan pelajar

* Sasaran pelajar dan gadis ABG yang doyan hura-hura
* Tak ada unsur paksaan dibanding kasus trafficking (penjualan manusia)
* Beberapa mal di Kota Bogor biasanya jadi transaksi awal esek-esek
* Transaksi terakhir dilakukan di hotel yang sudah disepakati
* Hasil dibagi germo dan perantara, biasanya korban dapat separuhnya
* Beberapa korban ada yang ketagihan dan itu menguntungkan germonya
* Keperawanan dipastikan akan dihargai lebih tinggi

Tips menghindari jebakan bisnis syahwat

* Awasi ketat perilaku dan mobilitas remaja putri Anda
* Cari tahu siapa kawan-kawannya, di mana berkumpulnya
* Ajak komunikasi apa yang dilakukan setiap harinya
* Jangan tabu bicara seks, kasih tahu bahaya seks bebas
* Bila perlu cari tahu mal yang biasa dijadikan transaksi esek-esek
* Beri pendidikan agama yang kuat pada anak-anak Anda. (Adi)

Lelang Keperawanan Rp 9 Miliar

Posted: 18 Jun 2013 01:31 AM PDT

NEVADA, JANGAN bayangkan semua orang Amerika hidup dalam gelimang uang. Yang nyaris putus asa pun banyak, termasuk Natalie Dylan, sarjana dari Sacramento State University.

Gadis ini melelang keperawanannya di situs lelang eBay dan uangnya akan digunakan untuk membayar biaya sekolah yang belum lunas. "Memang melelang keperawanan tidak akan menyelesaikan seluruh masalah saya, tetapi paling tidak akan membuat keuangan saya stabil," kata gadis 22 tahun itu kepada Insider, 12 September lalu.

Semula eBay menolaknya karena tidak ada kategori 'selaput dara'. Lalu Dylan beralih lewat rumah bordil Moonlight Bunny Ranch di Nevada. Mereka pun tidak punya pilihan karena memasang tawaran ini lewat situs Craighlist bakal berujung penangkapan karena termasuk kategori prostitusi.

Dylan mengaku sudah menjalani tes kebohongan untuk membuktikan status keperawanannya. Dia juga bersedia menjalani pemeriksaan medis untuk membuktikan bahwa selaput daranya masih utuh. Dalam waktu dekat, diperkirakan ia akan menerima tawaran dari sejumlah mahasiswa ginekologi.

Kalau ada penawaran yang cocok, Dylan tidak akan ragu melepas keperawanannya dan urusan finansialnya bakal teratasi. Bagaimana tidak, gadis itu berharap bisa mendapatkan 1 juta dollar AS atau Rp 9 miliar. Dengan uang sebanyak itu ia bisa berbuat apa saja. Siapa mau? (16/09/08/http://www.kompas.com)

Keperawanan Ditukar Handphone

Posted: 18 Jun 2013 01:25 AM PDT

TERTANGKAPNYA pasangan germo dalam bisnis esek-esek di kalangan pelajar di Bogor yakni Buyung dan Fani, berawal dari adanya laporan seorang ibu. Ibu tersebut curiga dengan perubahan total penampilan anaknya.

Ibu berinisial Ra (40) tersebut mengaku curiga dengan perubahan penampilan anak kesayangannya, Ca (14). Beberapa bulan terakhir, kata Kepala Urusan Bina Operasi Polresta Bogor Iptu Pahyuni, anak perempuannya itu jadi tampil modis. Bocah itu selalu membawa uang banyak dan punya handphone baru."Padahal ibu tersebut tak pernah memberinya. Barang-barang tersebut malah di luar kemampuan keluarga ibu tersebut," kata Yuni menirukan laporan dari Ra.

Saat ditanya dari mana uang dan handphone tersebut diperoleh, Ca bilang dari seseorang. Setelah didesak Ra, bocah SMP tersebut akhirnya mengakui memperoleh dari seorang om yang sudah ia layani. Ibunya terkejut mendengar pengakuan tersebut. Lalu Ra juga menyebut pasangan Buyung-Fani yang telah menjerumuskan ke dunia esek-esek tersebut.

Fani sendiri bukan orang asing bagi Ra. Ia adalah keponakannya atau putri dari adik suaminya. Rupanya Fani tak mau mencari korban jauh-jauh. Ia menawari sepupunya sendiri dan ternyata berhasil.

Kepada polisi, Ca mengakui didatangi Buyung-Fani. Mereka menanyakan apakah ia mau punya uang banyak dan handphone baru yang paling mahal. Tentu saja Ca mengangguk. Begitu diberi tahu caranya, ternyata Ca juga tak menolak. Sudah lama bocah ABG itu merindukan sebuah handphone dan punya uang banyak.

Buyung dan Fani lalu menghubungi koleganya. Mereka bilang punya ABG perawan yang mau diajak kencan. Singkat kata, ada seorang lelaki hidung belang asal Jakarta yang berminat. Buyung dan lelaki itu lalu melakukan tawar menawar. Keperawanan Ca yang dihargai Buyung Rp 5 juta ditawar lagi jadi Rp 3 juta. Buyung pun setuju. Toh, berapa pun harganya ia tetap dapat bagian.

Ketiganya lalu meluncur ke sebuah mal yang berlokasi sekitar tiga kilometer dari Mapolresta Bogor. Di tempat itu mereka bertemu dengan seorang perempuan yang biasa dipanggil Mala (16). Menurut Iptu Yuni, Mala merupakan perempuan binaan pasangan Buyung-Fani. Mala pula selanjutnya yang menemani Ca mengantar ke lelaki hidung belang yang memesannya.

Mereka check in di salah satu hotel di kawasan Jakarta Selatan sesuai perjanjian.

Setelah Ca melayani lelaki hidung belang tersebut, Mala kembali mengantarnya ke Bogor. Di mal itu pula mereka bertemu lagi dan membagi uang Rp 3 juta hasil penjualan keperawanan Ca. Mala dapat Rp 800.000, Buyung Rp 300.000, Fani Rp 350.000 dan sisanya Rp 1,55 juta untuk Ca.

"Transaksi keperawanan itu terjadi Desember 2007 lalu. Hingga kini yang bersangkutan masih bertransaksi sehingga penampilannya pun pasti berbeda dari sebelumnya," kata Iptu Yuni. Perubahan itu pastilah membuat tetangga dan kawan-kawan Ca kaget, apalagi ibunya. (07/04/08/http://www.kompas.com)

Putus Sekolah, Jual Keperawanan Rp 170.000

Posted: 18 Jun 2013 01:17 AM PDT

SETAHUN yang lalu, Janet Kimani masih menghabiskan hari-harinya di sekolah atau bertengkar dengan adik laki-lakinya soal acara televisi. Tidak ada lain yang dipikirkan kecuali dunia anak-anak yang menyenangkan.

Namun, saat ini ia menghabiskan siang harinya dengan tidur karena malam nanti ia harus menjual tubuhnya. Ya, Janet harus mengaryakan tubuh kurusnya yang baru berusia 14 tahun demi 160 shilling Kenya (setara dengan Rp 27.000) untuk satu jam layanan syahwat.

"Sekarang banyak gadis seperti saya bekerja di jalanan," kata Janet ketika ditemui di pinggir jalan salah satu sudut Eldoret, sebuah kota di bagian barat Kenya, pekan lalu.

Prostitusi dan eksploitasi seksual saat ini sedang "naik daun" ketika kerusuhan berdarah mencabut nyawa lebih dari 1.000 warga Kenya akhir tahun lalu, termasuk di Eldoret. Kerusuhan itu menghancurkan perekonomian dan menyeret warga Kenya ke jurang kemiskinan.

Pada saat seperti itu, seperti di tempat lain, ribuan anak dipaksa meninggalkan sekolah dan bekerja di jalanan untuk menyambung hidup. Janet salah satu di antara mereka.

Tidak ada angka yang pasti berapa ratus atau ribu anak gadis terjerumus dalam prostitusi. Yang jelas, fenomena ini membuat miris para aktivis kemusiaan dan dokter karena sudah dapat dipastikan angka korban HIV/AIDS meroket.

"Dengan berjalannya waktu, kami mulai merasakan dampak konflik ini, yakni HIV dan AIDS," kata Teresa Omondi, Kepala Pusat Pemulihan Kekerasan Gender di Rumah Sakit Perempuan Nairobi.

Sebuah laporan yang dipublikasikan lembaga itu menjadi semacam tanda bahaya. Disebutkan, sudah ada ketakutan bahwa prestasi mengurangi prevalensi HIV di Kenya akan musnah sia-sia. Dewan Pengawas AIDS Nasional Kenya juga menggelar studi dampak kekerasan ketika perkosaan massal dan kejahatan seksual lain terjadi selama kerusuhan itu.

Sejumlah pekerja seks belia yang diwawancarai mengaku bekerja tanpa kondom karena saat ini persaingan semakin keras karena semakin banyak teman sebaya dan senasib mereka turun ke jalan."Memang kami biasanya pakai kondom, tetapi ada kalanya tidak," kata Milka Muthoni (17). Gadis ini sebenarnya butuh setahun lagi untuk menyelesaikan SMA, tetapi tekanan ekonomi membuat pendidikannya terhenti dan memilih menjual tubuh.

"Saya tahu ini bisnis yang berisiko. Suatu kali saya pergi ke rumah sakit dengan beberapa luka dan penyakit. Tapi bagaimana lagi, saya tidak punya pilihan lain," katanya.

Milka yang tinggal di Eldoret mengaku diusir dari rumah ketika orangtuanya tahu ia menjual diri. "Tetapi sekarang saya belanja untuk mereka, jadi mereka tidak tanya-tanya lagi dari mana saya mendapat uang," tuturnya.

Pertumpahan darah itu pecah menyusul sengketa hasil pemilu pada 27 Desember 2007 dan itu menjadi saat paling kelam dalam sejarah Kenya sejak merdeka dari Inggris pada 1963. Sengketa politik itu berujung pada kerusuhan dan perkelahian antaretnis yang akhirnya mengungkap lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Memang akhirnya pembagian kekuasaan di antara para elite menghentikan konflik ini. Presiden Mwai Kibaki tetap menduduki kursinya, sementara lawan politiknya, Raila Odinga, menjadi perdana menteri. Namun, Kenya telanjur kehilangan 1 miliar dollar karena kerusuhan ini meski sekarang pelan-pelan perekonomian pulih dan turis kembali memadati pantai-pantai di tepi Samudra Hindia.

Sayangnya kerusakan nyaris mustahil dipulihkan seperti semula. Ribuan warga Kenya masih tinggal di pengungsian, setelah kabur dari desa ketika kerusuhan datang. Banyak siswa tidak kembali ke kelas atau putus sekolah karena tidak bisa lagi membayar uang sekolah yang naik mengikuti harga bahan bakar minyak.

Musai Ndunda, Ketua Asosiasi Orangtua Kenya, mengatakan, sekitar 40.000 siswa usia SMP putus sekolah Februari lalu. Itu angka terakhir yang bisa didapat. Ia yakin masih banyak yang tidak tercatat. Mungkin juga sudah ada yang kembali ke sekolah tetapi keluar lagi.

Bagi Janet, kembali ke Kiambaa Primary School bukan termasuk pilihan yang bisa diambil karena gedung itu sudah rata dengan tanah setelah dibakar massa saat kerusuhan.

Dia sempat sebulan tinggal di kamp penampungan di Eldoret. Sampai kemudian ia mengamati temannya, Nyambura, selalu punya makanan dan pakaian bagus meski sama-sama tinggal di kamp. Suatu hari, Nyambura mengakui ia menjual tubuhnya dan mengajak Janet mengunjungi tempat kerjanya, sebuah pub.
"Sebenarnya saya enggan, tapi Nyambura meyakinkan saya bahwa laki-laki itu akan membayar. Saya belum pernah minum alkohol, tetapi saya sangat butuh uang, jadi saya ikut saja," tutur Janet mengenang hari pertamanya masuk dalam kehidupan malam.

Malam itu keperawanannya dihargai 1.000 shilling atau sekitar Rp 170.000. Dia membawakan makanan untuk kedua orangtua dan enam saudaranya. Saat itu ia mengaku punya pekerjaan di kota, tetapi tidak memberi tahu pekerjaan apa dan mereka pun juga tidak bertanya.

"Orangtua saya sudah miskin, bahkan sebelum kerusuhan. Mereka tidak bisa membeli bahan-bahan kebutuhan. Sekarang, dengan saya di jalanan, kalau sedang untung ya bisa bawa pulang 2.000 shilling. Itu setelah tidur dengan lima atau enam pria," katanya.

Janet jelas tidak punya harapan kembali ke sekolah. Orangtuanya tidak punya pekerjaan sehingga penghasilan Janet sangat penting untuk menyambung hidup keluarganya. "Memang pekerjaan ini awalnya sangat menyiksa. Tidur dengan pria-pria itu sangat mengerikan karena kadang-kadang mereka juga kasar dan menyakiti saya. Tapi kelamaan saya terbiasa," katanya.

Prostitusi memang sudah lama menjadi persoalan di Kenya, khususnya di kawasan wisata. Agnetta Mirikau, aktivis perlindungan anak di UNICEF Kenya, mengatakan, peningkatan jumlah pelacur anak mudah terlihat di kota-kota yang paling parah tingkat kerusuhannya, seperti Eldoret, Naivasha, dan Nakuru.
Eldoret merupakan lokasi kerusuhan paling keras dan berdarah seusai pemilu. Di kota ini sebuah gereja dibakar, padahal gedung itu dipenuhi orang yang sedang mencari perlindungan. Puluhan orang tewas dalam insiden itu.

"Orang-orang dewasa sekarang mengumpankan anak-anaknya karena mereka tidak punya penghasilan apa pun. Anak-anak putus sekolah dan mereka ingin membantu menghasilkan sesuatu untuk orangtuanya. Jika tidak ada makanan dan mereka merasa bertanggung jawab atas nasib saudara-saudaranya, maka mereka akan keluar rumah dan mencari uang untuk beli makanan," kata Mirikau.

Wali Kota Eldoret Sammy Rutto baru-baru ini memerintahkan polisi memberantas prostitusi setelah mendengar ada gadis 12 tahun terlihat nongkrong di bar. "Ini bisnis yang tidak bisa kami biarkan. Mereka harus mencari alternatif lain untuk hidup. Pelacuran pasti akan memperluas penyebaran AIDS, dan banyak orangtua kehilangan anak-anaknya," kata Sammy.

Pertanyaannya, apakah alternatif itu ada, atau bisakah pejabat seperti Sammy Rutto dan politisi yang berebut kekuasaan itu menyediakan pekerjaan lain yang tidak berbahaya.( Senin, 4 Agustus 2008 | 07:47 WIB/www.kompas.com)

Ritual Awet Muda Nan Laris PSK Indramayu

Posted: 18 Jun 2013 01:13 AM PDT

Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sejak dulu memang identik dengan dunia prostitusi. Tudingan miring tersebut ternyata bukan isapan jempol semata. Faktanya, memang demikian adanya. Dari berbagai catatan perdagangan perempuan di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri yang berhasil dihimpun aparat kepolisian dan sejumlah LSM diketahui, bahwa Indramayu termasuk dalam urutan pertama sebagai daerah pemasok wanita yang siap dijadikan pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai pekerja seks komersial alias PSK.

Data tersebut semakin diperkuat dengan merebaknya tempat-tempat prostitusi yang ilegal atau legal, dari kelas kakap sampai kelas kambing, yang banyak bertebaran di hampir setiap sudut wilayah Indramayu. Sebut saja di Sukra, Karangampel, Haurgelis, Cangkingan, Anjatan, Legok, Sukahaji, Cilegeng Indah, Gantar, Kalimenir, Kandanghaur, Sliyeg, dan beberapa di wilayah Indramayu kota.

Di beberapa wilayah tersebut, prostitusi seakan sudah menjadi semacam tumpuhan harapan dari kesulitan ekonomi. Masyarakat sudah maffum, meski mayoritas dari mereka adalah penganut agama Islam yang terbilang taat. Rumah-rumah bedeng semi permanen yang dihuni puluhan wanita nakal lengkap dengan fasilitas esek-esek dibangun di samping masjid atau mushola merupakan pemandangan biasa yang tampak di wilayah ini. Satu contoh seperti di Desa Cangkingan, Kecamatan Karangampel.

Di daerah ini puluhan warung malam remang-remang bertebaran. Di depan warung yang rata-rata berukuran 3 x 5 meter itu, terpancang panggung kecil sebagai tempat berjoget dengan iringan musik dangdut dari tape recorder. Warung-warung ini juga memajang gadis-gadis belia berparas ayu, berusia 13 hingga 15 tahun. Sebagian besar di antara mereka masih duduk dibangku SLTP. Malah ada yang masih SD kelas VI.

Perawan-perawan cilik tersebut biasa disajikan untuk menemani minum bir para lelaki pengunjung warung, serta sesekali berjoget hingga larut malam. Meski usianya masih sangat belia, namun mereka amat mahir dalam merayu tamunya agar minum sampai teler, lalu memberikan tips dalam jumlah besar. Walau demikian, mereka selalu menolak setiap diajak ngamar.

Kabarnya, warung-warung malam di Desa Cangkingan inilah yang disebut sebagai tempat magang gadis Indramayu untuk dididik sebagai wanita penghibur profesional di kota-kota besar, bahkan hingga ke luar negeri.

Berbagai hasil penelitian menyebutkan, tingginya angka prostitusi dan perdagangan perempuan di Indramayu lebih disebabkan oleh faktor ekonomi. Sedang sebagian kecil lainnya karena terpengaruh tradisi kawin di usia muda, serta tingkat pendidikan yang masih rendah.

Menurut pengamat masyarakat Indramayu, Hasan Alkarim, cewek Indramayu terperosok ke dalam jurang pelacuran sudah sejak era 1960 silam. Pada waktu itu, keadaan Indramayu sedang dilanda paceklik. Ratusan hektar sawah gagal panen. Masyarakat yang sebelumnya sudah berharap dapat hasil melimpah ternyata harus gigit jari. Kekeringan dan kelaparan terjadi di mana-mana.

Kondisi yang buruk itu mengakibatkan banyak masyarakat Indramayu yang memilih hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Yang pria menjadi buruh kasar, sedangkan wanitanya memilih menjadi PSK, karena dianggap lebih mudah dan menguntungkan.

"Sesuai catatan sejarah seperti itu. Seandainya Indramayu tidak pernah dilanda paceklik mungkin ceritanya jadi lain," kata Hasan kepada Misteri.

Selain faktor tersebut, di Indramayu juga mengenal sistem kawin di usia muda. Seakan sudah menjadi tradisi, setiap menjelang dan masa panen, kaum laki-laki muda bersiap-siap mencari pasangan. Pun demikian dengan kaum wanitanya. Keinginan itu ditunjang dengan penghasilan dari panen padi yang jika dirupiahkan angkanya mencapai miliaran, karena rata-rata penduduk Indramayu memang memiliki lahan sawah lebih dari satu hektar.

Tradisi mencari jodoh itu terus berkembang dari generasi ke generasi, hingga tak heran jika di daerah-daerah tertentu terdapat lokasi khusus untuk para pencari jodoh. Tempat tersebut biasa disebut orang Indramayu sebagai Pasar Jodoh. Di Pasar Jodoh inilah mereka tak hanya sekedar bertemu dan berkenalan, melainkan juga menghibur diri, karena Pasar Jodoh di Indramayu kondisinya mirip dengan pasar malam yang biasa nampak di daerah-daerah lain.

Dalam ajang Pasar Jodoh itu setiap pasangan yang sudah menemukan jodohnya masing-masing selalu mengikat janji untuk menikah, meski tanpa persiapan dan tentu saja tidak ada cinta dan kasih saying yang kuat. Akibatnya, sudah bisa diduga. Dalam beberapa waktu selanjutnya, angka perceraian pun akan terus membengkak.

"Nah, janda-janda inilah yang kemudian banyak terjun menjadi PSK," ujar Hasan menegaskan.

***

Namanya bekerja sebagai pelacur, tentu tidak perlu persyaratan yang njlimet dan aneh-aneh. Cukup dengan modal wajah cantik, bodi mulus serta kenekadan yang tinggi. Hanya dengan itu duit dalam jumlah banyak akan mudah diraup dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pelacur-pelacur yang sudah berhasil ini, manakala pulang kampung biasa mengiming-imingi setiap wanita di kampungnya yang masih belum memiliki kekayaan cukup. Iming-iming itulah yang akhirnya menjadikan arus urbanisasi pelacur dari Indramayu terus bertambah. Karena, bekerja menjadi pelacur bisa mendatangkan uang cukup banyak dalam waktu yang tidak terlalu lama dan kerjanya juga ringan.

Pola pikir masyarakat Indramayu pun pada gilirannya berangsur-angsur menganggap prostitusi bukan lagi sesuatu yang tabu. Malah di beberapa daerah pelosok Indramayu, banyak orang tua yang justru merasa bangga jika anaknya memiliki wajah cantik, karena itu berarti aset yang bisa dijual. Tak heran jika banyak orang tua dari Indramayu justru mengantarkan sendiri anaknya ke Jakarta atau kota-kota lain untuk dijadikan PSK.

Pola pikir yang sudah mengesampingkan moral dan tatakrama itulah yang hingga kini dijadikan makanan empuk bagi para makelar wanita untuk lebih leluasa bergerilya mencari mangsa di Indramayu. Para pedagang perempuan itu berani mengikat orang tua yang punya gadis belia dengan panjar uang yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah.

Teknik jemput bola yang diperagakan oleh kelompok mafia ini ternyata disambut baik oleh sebagian besar orang tua di Indramayu. Akibatnya, prostitusi dan perdagangan perempuan di wilayah ini seakan tak akan pernah bisa diberantas. Bahkan, aparat kepolisian dari Mapolres Indramayu yang sudah berkali-kali melakukan razia dengan sandi Operasi Pekat pun seakan tak mampu menekannya.

Memang, pelacuran di Indonesia sudah merebak sejak Tanam Paksa pada zaman penjajahan Belanda, ketika kapitalisme Eropa mulai berkembang. Tradisi Dewi Seks yang berkembang di Asia juga turut mempengaruhi, hingga tanpa satu hukum pun mampu menghentikannya. Kondisi ini dilandasi kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak-anak perempuan usia muda, khususnya yang masih perawan, belum tersentuh laki-laki, akan membuat laki-laki menjadi awet muda, lebih kuat, malahan menyembuhkan penyakitnya.

Mitos seperti ini terus dihidup-hidupkan dengan berbagai cara oleh para trafficker, yakni orang-orang yang berada dalam mata rantai perdagangan manusia untuk kebutuhan seksual. Bagi mereka, para PSK, yang usianya merangkak tua, yang tertinggal adalah resiko penyakit dan keterasingan. Jika pamor tubuhnya mulai turun, para pekerja seks itu memilih menjadi istri kedua atau simpanan yang menikah di bawah tangan.

Di Desa Belibis, banyak perempuan mantan pekerja seks menjadi simpanan orang-orang Jakarta yang bukan tergolong kaya atau berpangkat. "Suami anak saya ini datangnya seminggu sekali," kata Bu Tinah, 60 tahun, ibu dari Lisna, 30 tahun, perempuan dengan tiga anak. Ayah ketiga anak Lisna berbeda-beda karena acapkali suaminya tidak muncul lagi setelah anaknya lahir.

Kalau tidak menjadi isteri muda, mereka berganti peran menjadi bagian dari trafficker, mencari gadis-gadis dari berbagai kampung dan daerah-daerah pedesaan, mengiming-imingi mereka dengan kehidupan yang serba nyaman.

Dengan demikian, Teori Foucault, tokoh postmodernisme dari Perancis tentang keterkaitan kapitalisme dengan represi modern atas seksualitas mendapatkan pembenarannya. Sayangnya, ideologi kapitalisme yang berkembang di negara manapun tidak pernah memberikan kekayaan dan kemakmuran bagi para budak. Sebaliknya, para juragan terus mempertontonkan pola hidup konsumen tajir terhadap para budaknya tanpa diimbangi dengan pemberian fasilitas maupun upah yang memadai. Akibatnya, keinginan tidak sesuai dengan keadaan. Tingkat kriminalitas pun meningkat, termasuk wanita-wanita yang rela terjun menjadi pelacur.

Kondisi itu semakin parah jika usia semakin bertambah. Karena pada kondisi itu, aset tubuh yang biasa dijual sudah mulai mengalami penurunan. Tak heran, jika orangtua di Indramayu akan sangat memanfaatkan keadaan anak gadisnya yang masih belia untuk mendulang rupiah sebanyak mungkin. Prinsip aji mumpung ini kerap dibarengi pula dengan upaya-upaya mistik yang beresiko tinggi, seperti pesugihan.

Upaya-upaya mistik itu terkadang juga masih terus dipraktekkan meski usia anak gadisnya sudah lanjut dan pasarannya pun mulai anjlok. Salah satunya seperti yang saat ini banyak digunakan oleh para PSK yang tergolong Setengah Tuwir (STW), yaitu dengan melakukan apa yang disebut sebagai Ritual Luru Duit, atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai "mencari uang."

MAKAN CICAK PUTIH

Banyak jalan menuju Roma. Pepatah tersebut dipegang teguh oleh para PSK di Indramayu. Artinya, banyak cara untuk bisa mendapatkan uang, meski kondisinya sudah tidak memungkinkan. Bagi para PSK yang sudah STW, tentu saja usia yang semakin lanjut menjadi warning yang tidak boleh dianggap remeh. Mereka harus sesegera mungkin mempersiapkan diri agar tidak terlindas atau terkalahkan oleh para PSK pendatang baru yang tentunya lebih muda, segar dan cantik.

Dari penelusuran Misteri, tak hanya para PSK muda Indramayu yang hingga kini gemar melakukan oleh spiritual untuk mendapatkan pelarisan. Para PSK STW pun ramai-ramai melakukan hal serupa. Salah satu oleh spiritual PSK STW yang dipercaya bisa membuat mereka awet muda dan tetap laris meski kulit sudah mulai keriput, ialah dengan rajin memakan cicak putih. Cara ini kedengarannya memang aneh, namun praktek seperti itu saat ini seakan sudah menjadi tradisi yang tidak bisa ditinggalkan. Hampir sebagian besar para PSK STW di Indramayu yang tidak ingin dirinya tergerus oleh zaman pasti melakukan hal ini.

Memakan cicak putih memang menjijikkan. Selain hewan melata itu tidak lazim dikonsumsi, bentuk serta pola hidupnya pun hampir mirip dengan binatang purba. Dan yang paling tidak memungkinkan, jumlah populasi cicak putih di Indonesia terbilang minim, sehingga sulit didapatkan. Bahkan, di Indramayu sendiri, untuk bisa mendapatkan cicak putih bukan perkara yang gampang. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan satu ekor saja.

Lantas, berapa dan bagaimana cicak putih itu dimakan?

Menurut kepercayaan para PSK STW yang entah didapatkan darimana, cicak putih yang harus dimakan agar mereka bisa awet muda adalah berjumlah sepuluh ekor dalam setiap minggunya. Ritual itu dilakukan selama sepuluh minggu atau dua bulan setengah. Jumlah itu boleh dimakan sekaligus dalam satu hari atau digilir secara rutin selama seminggu penuh.

"Yang jelas jumlahnya harus sepuluh ekor dan harus dimakan dalam waktu satu minggu. Kalau belum satu minggu cicak sudah habis semua, ya harus menunggu sampai minggu depan lagi. Tidak boleh langsung ditambah," kata Ismiyati, 38 tahun, seorang PSK STW yang biasa mangkal di sekitar taman Wisata Pantai Tirtamaya, Karangampel.

Selama menjalani ritual itu, para pelakunya harus pula membarengi dengan membacakan beberapa amalan atau mantra khusus yang di kalangan orang Indramayu dikenal dengan sebutan Mantra Papaes. Mantra yang bunyinya sangat dirahasiakan dan hanya boleh disebarkan di kalangan para PSK STW itu jumlahnya terdiri dari empat bait, dan harus dibacakan pada setiap malam Selasa Legi selepas pukul dua belas malam, selama masa waktu dua setengah bulan ritual. Efek dari Mantra Papaes dipercaya akan memperkuat laku ritual fisiknya, yaitu makan cicak putih.

Ismiyati termasuk golongan PSK yang sudah senior dan kenyang makan asam garam dunia hitam tersebut. Bayangkan saja, dia sudah terjun menjadi PSK sejak masih berumur 15 tahun. Dia termasuk salah seorang korban perdagangan perempuan. Karena merasa langkah tersebut dianggap paling baik untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, hingga kini Ismiyati mengaku tidak akan banting stir, meski usianya sudah di ambang batas.

Apa tidak takut bakalan kalah bersaing dengan yang muda? "Makanya saya melakukan ritual ini karena saya takut. Kalau hasilnya sih boleh dicoba," ujar Ismiyati dengan gayanya yang masih tetap genit. Mungkin mirip masa mudanya dulu.

Praktek yang sama juga dilakukan Zamilah, 33 tahun, PSK STW yang kerap menjajakan diri di pertigaan Celeng, Jatibarang. Sama halnya dengan Ismiyati, Zamilah juga sering melakukan hal serupa, yaitu rajin makan cicak putih. Cara serta waktunya pun tidak terlalu sulit. Cicak-cicak putih itu bisa dimakan kapan saja, tanpa ada aturan waktu yang baku. Zamilah juga terlihat bingung saat ditanya siapa yang pertamakali mengajarkan ilmu tersebut.

"Pokoknya dari dulu kepercayaannya sudah seperti ini. Kalau Mas tidak percaya, coba saja tanya seluruh PSK STW di Indramayu, jawabannya pasti sama. Mereka melakukan hal yang sama dengan saya. Tradisi yang saya lakukan ini sudah berlaku dari mulut ke mulut dan turun temurun," ungkap Zamilah dengan nada meyakinkan.

Hanya saja, Zamilah sedikit mendalami tata cara dan makna dari memakan cicak putih. Menurutnya, cicak putih harus mulai rutin dimakan sejak memasuki usia 30 tahun. Di usia itu, beberapa organ vital wanita akan mengalami penurunan. Salah satu yang mudah dilihat adalah kulit muka yang mulai keriput. Keadaan itu lambat laun tidak bisa ditutupi meski sudah dilapisi dengan make-up merek terkenal sekalipun. Selain itu, yang terpenting adalah "rasa." Rasa inilah yang menurut Zamilah akan mempengaruhi daya jualnya di mata para konsumen. Rasa yang dimaksud adalah pada saat berhubungan badan.

Konon, wanita berumur yang biasa memakan cicak putih rasanya akan lain dengan wanita yang sama sekali tidak melakukannya. Zamilah sudah berulangkali mencobanya. Dia kerap mendapatkan pujian dari para konsumennya. Tarifnya pun sampai kini masih terbilang tinggi, yaitu berada pada kisaran di atas Rp.100 ribu untuk sekali kencan. Tarif tersebut hampir sama dengan para PSK muda belia yang mangkal di wilayah Indramayu pelosok.

Diakui Zamilah, PSK STW yang banyak bertebaran di Blanakan, Subang, juga melakukan hal yang sama. Terbukti, pasaran mereka laku keras, bahkan bisa mengalahkan yang lebih muda. Banyak pula di antara mereka yang menjadi isteri simpanan para pejabat dan pengusaha.

"Masa sih Mas tidak tahu, lha wong bolak balik masuk TV. Yang nongol dari Blanakan kan mesti PSK STW. He…he…he…!" Ujarnya enteng, dengan tawanya yang centil.

Untuk mendapatkan cicak putih, baik Ismiyati maupun Zamilah harus mengeluarkan tenaga dan biaya ekstra, karena memang cukup sulit. Untuk itu, dia berani memasang tarif untuk satu ekor cicak putih itu seharga Rp. 20 ribu bagi siapa saja yang bisa menangkapnya. Orang-orang tersebut sengaja dia suruh agar berkelana ke berbagai daerah untuk mendapatkan makhluk langka tersebut. Bahkan, harga tersebut masih akan bertambah, jika cicak yang didapatkan ukuran tubuhnya lebih besar.

Cicak-cicak tersebut tentu saja tidak dimakan langsung, melainkan terlebih dahulu digoreng atau dimasak. Tidak takut ketahuan orang atau keluarga?

"Wah, di sini sudah biasa, Mas. Hal seperti itu wajar-wajar saja. Namanya juga usaha," ujar Zamilah.

Efek yang didapatkan setelah memakan cicak putih tersebut, menurut pengakuan beberapa PSK STW, mereka merasakan seperti muda kembali. Sugesti yang didapatkan sangat besar. Hal itu tentu berefek pada pola dan gaya bercinta mereka. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah alat kelamin mereka konon terasa lebih rapat dan legit. Keadaan itulah yang kabarnya membuat para pelanggan akan terus ketagihan sampai kapan pun.

DARAH GORENG

Selain makan cicak putih, para PSK STW di Indramayu yang sedang menjalani ritual Mantra Papaes juga harus memakan darah goreng. Darah yang digoreng tersebut berasal dari darah hewan seperti kambing, sapi, ayam, kuda, dan kerbau. Darah yang digoreng itu berasal dari darah bekas penyembelihan. Setelah darah itu berhasil dikumpulkan, terlebih dahulu dibekukan dengan cara disimpan di dalam kulkas selama sehari semalam. Selanjutnya, darah gumpalan yang sudah mengeras itu dipotong-potong dengan ukuran sesuai selera.

Setelah dipotong lalu dibumbui sesuka hati pula. Selanjutnya, potongan darah beku itu digoreng. Orang Indramayu biasa menyebut makanan tersebut dengan nama Marus. Hobi memakan marus di kalangan PSK STW dipercaya bisa mendatangkan kekuatan seks yang luar biasa. Siapapun yang memakannya dapat perkasa di atas ranjang laksana kuda betina, sehingga berhadapan dengan laki-laki manapun pasti akan dibuat bertekuk lutut.

Para PSK STW di Indramayu menurut pengakuan beberapa di antaranya, tak pernah lupa melakukan ritual yang satu ini. Memakan darah goreng ini merupakan pelengkap yang harus dilakukan selain memakan cicak putih. Waktunya pun diusahakan berada di antara waktu makan cicak putih. Jadi, kalau bisa setelah memakan cicak putih dilanjutkan dengan memakan darah goreng.

Namun, memakan darah goreng ternyata tidak sembarang PSK STW bisa melakukannya. Karena biasanya, pasti akan muntah. Nah, agar tidak muntah sebaiknya sebelum melaksanakan ritual ini, terlebih dahulu puasa selama tiga hari. Dan pada hari terakhir dengan cara mutih alias hanya memakan nasi putih saja.

"Kalau tahapan itu sudah bisa dilalui, memakan dua benda menjijikkan itu akan berubah menjadi kebiasaan. Dan, rasanya pun pasti enak," kata Lilis, 39 tahun, PSK STW lainnya.

Selain dua cara tadi, seluruh tahapan ritual tersebut biasanya diakhiri dengan cara minum dan mandi air keramat dari Gunung Kromong yang terletak di Bongas, daerah yang sebagian masuk wilayah Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Gunung tersebut dipercaya memiliki air keramat yang sangat luar biasa ampuh. Air dari sumber mata air yang tak pernah habis sejak dulu meski di musim kemarau itu juga dijadikan pengairan puluhan hektar sawah di wilayah Indramayu.

Masyarakat dari berbagai daerah di Indramayu setiap tahunnya selalu berdatangan ke Gunung Kromong untuk menimba air keramat. Mereka selalu membawa jerigen dan wadah lainnya. Mereka sering berebut dengan para PSK yang juga sama-sama mencari berkah dari air tersebut. Konon, air dari Gunung Kromong jika digunakan untuk minum atau mandi bisa memberikan arura awet muda. Dan, jika digunakan untuk mengairi sawah, meski jumlahnya terbatas, dipercaya sawah tersebut akan menghasilkan panen yang melimpah ruah.

No comments:

Post a Comment